Kontribusi Landasan Religious Terhadap Perkembangan Kepribadian Individu

Kamis, 13 Oktober 2011

Kontribusi Landasan Religious
Terhadap Perkembangan Kepribadian Individu



 









Disajikan Oleh :
1.      Annisa Fadlia Zaen     (K3110008)
2.      Day Shella                   (K3110017)
3.      Latifatun Zab’ah         (K3110038)
4.      Rahmatuz Zaqiyah      (K3110052)
5.      Rani Kurniasih            (K3110054)
                  


Program Studi Bimbingan dan Konseling
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret  Surakarta
2010





BAB I
PENDAHULUAN

Landasan religious bimbingan dan konseling pada dasarnya ingin menetapkan klien sebagai mahluk Tuhan dengan segenap kemuliaannya menjadi fokus sentral upaya bimbingan dan konseling. Landasan religious terkait dengan upaya mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses bimbingan dan konseling. Untuk mewujudkan hal itu, maka sudah sepatutnya agama mendapat tempat dalam praktek-praktek konseling atau psikoterapi. Dalam bab ini akan dibahas bagaimana kontribusi Landasan Religius terhadap Perkembangan Kepribadian Individu. Karena kita tahu sendiri bahwa agama harus dijadikan pedoman hidup setiap individu.



BAB II
ISI

A.    Hakikat Manusia Menurut Agama
Sifat hakiki manusia adalah mahluk beragam (Homoreligius) yang memiliki fitrah untuk menerima nilai kebenaran yang bersumber dari agama. Fitrah beragama ini menjadi potensi arah perkembangan amat tergantung pada kehidupan beragama, lingkungan dimana anak itu hidup. Lingkungan itu memberikan  ajaran bimbingan dengan pemberian dorongan dan keteladanan yang baik dalam mengamalkan nilai-nilai agama, berkembangan menjadi manusia yang berahlak mulia, berbudi pekerti luhur.
Kemampuan anak untuk dapat mengembangkan potensi baik dan mengendalikan potensi buruknya, itu tidak terjadi secara otomatis tetapi memerlukan bantuan orang lain, yaitu melalui pendidikan agama (bimbingan, pengajaran, dan pelatihan) terutama dari orangtuanya sebagai pendidik pertama dan utama di lingkungan keluarga.
Dengan mengamalkan pelajaran agama, berarti manusia telah mewujudkan jati dirinya, identitas dirinya yang hakiki yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Sebagai hamba dan khalifah Allah, manusia mempunyai tugas suci yaitu ibadah atau mengabdi kepada-Nya.

B.     Kontribusi Landasan Religious Terhadap Perkembangan Kepribadian Individu
1.      Memelihara fitrah
Manusia dilahirkan dalam kekadaan suci. Namun manusia memiliki hawa nafsu dan juga ada pihak luar yang senantiasa berusaha menggoda atau menyelewengkan manusia dari kebenaran. Agar manusia dapat mengendalikan hawa nafsu itu, maka manusia harus beragama  dengan beriman dan beramal sholeh atau melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.


2.      Memelihara jiwa
Dalam memelihara kemuliaan jiwa manusia, agama mengharamkan manusia melakukan penganiayaan, penyiksaan atau pembunuhan baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.
3.      Memelihara akal
Allah telah memberikan karunia kepada manusia yang tidak diberikan kepada mahluk lainnya, yaitu akal. Karena pentingnya peran akal ini, maka agama memberi petunjuk kepada manusia untuk mengembangkan dan memeliharanya, yaitu hendaknya manusia :
a.       Mensyukuri nikmat akal itu dengan cara memanfaatkan seoptimal mungkin untuk berfikir, belajar, atau mencari ilmu.
b.      Menjauhkan diri dari perbuatan yang merusak akal, seperti : meminum minuman keras, menggunakan narkoba, dan hal-hal yang merusak keberfungsian akal yang sehat.
4.      Memelihara keturunan
Agama mengajarkan kepada manusia tentang cara memelihara keturunan atau system regenerasi yang suci. Aturan atau norma agama untuk memelihara keturunan itu adalah pernikahan.

C.    Kontribusi Agama Dalam Bidang Pendidikan
Agama sebagai pedoman hidup bagi manusia telah memberikan  petunjuk tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk pembinaan atau pengembangan mental yang sehat.
Peran agama dalam kehidupan sehari-hari seperti :
1.      Sebagai sarana mawas diri
Contoh :
Seorang anak dapat membedakann baik dan buruk dalam menerima informasi dan teknologi yang berkembang di dunia pendidikan.


2.      Sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan
Contoh :
Seseorang anak yang memegang teguh agamanya mendasarkan segala sesuatu yang ia lakukan untuk mencari ridho Allah.Setiap tindakannya juga akan berimbas paka kadar keimanannya.
3.      Menjadikan pedoman
Contoh :
Seseorang yang beriman akan memiliki prinsip atau pedoman yang positif sehingga  akan menghindari perilaku yang menyimpang, seperti : Mencontek, merokok, miras dll.
4.      Menjadi motivasi kita agar selalu melakukan yang lebih baik lagi.
Contoh :
Saat seseorang yang beragama mendapat nilai ujian yang kurang baik, ia tidak lantas putus asa melainkan akan berusaha belajar lebih giat lagi seperti yang diajarkan dalam agama.

 
BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Agama merupakan pedoman hidup bagi manusia dalam rangka mencapai kebahagiaan yang hakiki didunia ini dan akhirat kelak. Karena agama sebagai pedoman hidup, maka semua kegiatan kehidupan manusia harus merujuk pada nilai-nilai agama.
Berdasarkan pendapat para ahli dan temuan-temuan hasil penelitian menunjukan bahwa agama sangat berperan (berkontribusi secara signifikan) terhadap pencerahan diri dan kesehatan mental individu. Bertitik tolak dari hal ini, maka pengintegrasian dan konseling merupakan suatu keniscayaan yang harus ditumbuh kembangkan.
Agar penerapan nilai-nilai agama dalam layanan bimbingan dan konseling berlangsung secara baik, maka konselor dipersyaratkan untuk memiliki pemahaman dan pengalaman agam yang dianutnya, dan menghormati agama klien yang berbeda dengan agama yang dianutnya.


KRITIK DAN SARAN
            Kami menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini.Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sekalian untuk perbaikan makalah ini.
     










0 komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

Total Pageviews